SAJAK
Di mana harga karangan sajak,
Bukan dalam maksud isinya;
Dalam bentuk, kata nan rancak,
Dicari timbang dengan pilihnya
Tanya pertama keluar di hati,
Setelah sajak dibaca tamat,
Sehingga mana tersebut sakti,
Mengikat diri di dalam hikmat.
Rasa bujangga waktu menyusun,
Kata yang datang berduyunduyun
Dari dalam, bukan nan dicari.
Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
Harus bergoncang di hati nurani.
(Sanusi Pane dari Puspa Mega)
SAJAK
O, bukannya dalam kata yang rancak
Kata yang pelik kebagusan sajak.
O, pujangga, buang segala kata,
Yang ‘kan cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca sepintas lalu.
Karena tak keluar dari sukmamu.
Seperti matahari mencintai bumi,
Memberi sinar selama-lamanya,
Tidak meminta sesuatu kembali,
Harus cintamu senantiasa.
(Sanusi Pane dari Madah Kelana)
Subagio Sastrowardojo kemudian meneruskan tradisi Sanusi Pane. Ia menyusun puisi dengan judul “Sajak” sebagai berikut.
SAJAK
Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu.
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari.
Kalau terbayang pantalon
Sudah sebulan sobek tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir?
Ah, sajak ini,
mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.
(Subagio Sastrowardojo, 1957)
Berbeda dengan Subagio, Hartojo Andangdjaja seolah-olah mendefinisikan langsung apa itu puisi dalam puisi yang berjudul sajak di bawah ini.
SAJAK
Sajak ialah kenangan yang bercinta
mencari jejekmu, di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
lewat bukit dan lembah
dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca
jejak kakimu di dana
Sementara di mukanya masih menunggu
yojana biru
kaki langit yang jauh
jarak-jarak yang harus ditempuh
Ia makin merindu
dalam doa, dan bersimpuh
Tuhanku…..
Sajak ialah kenangan yang bercinta
mencari jejakmu, di dunia
(Hartojo Andangdjaja, 1966)
Berbeda dengan yang lain yang menulis puisi dengan judul sajak, Dodong Djiwapradja membuat puisi dengan judul puisi.
PUISI
Kun fayakun
Saat penciptaan kedua adalah puisi
Tertimba dari kehidupan yang kautangisi
Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari
adalah puisi
Udara yag kauhirupi, air yang kauteguki
adalah puisi
Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli
adalah puisi
Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali
adalah puisi
Dan dari setiap tanah yang kaupijak
Sawah-sawah yang kaubajak
Katakanlah: sajak
Puisi adalah manisan
yang terbuat dari butir-butir kepahitan
Puisi adalah gedung yang megah
yang terbuat dari butir hati yang gelisah
(Dodong Djiwapradja, 1968)
Berbeda dengan puisi-puisi di atas, beberapa penyair menulis puisi dengan judul “Sajak” maknanya tidak lagi mudah diraba, seperti pada sajak Sapardi berikut.
SAJAK, 1
Begitulah, kami bercakap sepanjang malam: berdiang pada
suku kata yang gosok-menggosok dan membara.
“Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan
menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain
putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!”
Baiklah, kami pun bercakap sepanjang malam: “Tetapi begitu
cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai
beterbangan dan menyesakkan udara dan…”
(Sapardi Djoko Damono, 1973)
Kita mungkin akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud penyair dengan memberikan judul “Sajak” pada sajaknya. Tetapi, kita masih bisa mengenali hubungan antara judul dengan isinya karena masih kita dapati kata-kata seperti “berdiang pada suku kata…”, “… kata demi kata menjadi abu….” Bagi Sapardi kata-kata harus terus menerus kita gosok agar tidak menidurkan kita. Kita harus terus menerus berlatih menyusun kata sehingga menjelma puisi. Kita harus sigap menangkap kata demi kata agar tidak beterbangan dan tidak menjadi apa-apa. Kita harus dengan cepat menuliskan segala pikiran dan perasaan dalam bentuk kata-kata (puisi).
Di antara sekian banyak penyair yang menulis puisi dengan judul “Sajak” ialah Acep Zamzam Noor, yang lebih sulit lagi bagi kita untuk menemukan maksudnya.
SAJAK
Perempuan itu tanpa nama
Bangkit dari kesederhanaanmu
Ketika langit bersih
Mengalirkan sungai kasih
“Tapi aku bukan penzinah
Aku penziarah!”
Lantas siapa yang menyimpan tangisnya?
Lantas siapa yang menyusui bayinya?
Perempuan itu tanpa nama
Maria
Bangkit dari kesederhanaanmu
Menangis dalam dingin batu
Barangkali geli
Dihamili sejarah Masehi
“Tapi aku bukan anak jadah, ia!”
Kereta waktu terus melaju
(Acep Zamzam Noor, 1982)
Demikianlah, beberapa cara untuk memahami arti puisi. Alih-alih memperjelas, para penyair yang mencoba menulis puisi tentang puisi malah memperkabur. Tapi, itulah puisi. Kalau tidak kabur, bukan puisi namanya.




