SELAMAT BERGABUNG!

aktororchestra.blogspot.com adalah bentuk "pengkhidmatan" A. Bima Sutisna, Agus Nasihin, Yanti Sri Budiarti dan Aktor Band terhadap karya-karya sastra dan musik Indonesia.

Media ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah dan bermanfaat seputar bahasa dan sastra Indonesia, beragam apresiasi sastra, informasi musik dan lagu, serta mudah-mudahan dapat memotivasi para pelajar, pendidik dan musisi untuk senantiasa berkarya serta tetap menjaga dan meningkatkan kualitas.


Minggu, 06 Juni 2010

MENJADI PENYAIR AMOR


Penulis: Agus Nasihin
 (Beberapa Catatan dari Dialog dengan Acep Zamzam Noor dan Ahda Imran yang dilaksanakan oleh Majelis Sastra Bandung di Gedung Indonesia Menggugat, 30 Mei 2010)



Penemuan dalam Pertemuan (Kecil)
Berbicara mengenai perpuisian di Jawa Barat (khususnya Bandung) pada tahun 80-an tidak dapat dilepaskan dari dua hal, yaitu “Pertemuan Kecil” dan Saini K.M. “Pertemuan Kecil” merupakan rubrik di Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini K.M. memuat karya-karya penyair disertai ulasan singkat. Saini K.M. diakui sebagai pengasuh para penyair muda bagaimana menulis puisi yang baik dan menjadi penyair yang benar. Dari rubrik inilah dikenal karya-karya Juniarso Ridwan, Beni Setia, Yessi Anwar, Sutan Iwan Soekri Munaf, Diro Aritonang, Soni Farid Maulana, Nirwan Dewanto, Agus R. Sarjono, Cecep Syamsul Hari, dan banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan satu per satu, tidak terkecuali Acep Zamzam Noor dan Ahda Imran. Sebagaimana diakui oleh Ahda Imran, Saini K.M. tidak banyak memberikan ulasan yang bersifat teknis, tetapi lebih menekankan pada masalah sikap mental. Dengan demikian, “Pertemuan Kecil” menjadi bidan yang membantu lahirnya penulis-penulis muda yang terbukti kemudian banyak menjadi penulis-penulis mumpuni.
Bisa jadi, “Pertemuan Kecil” adalah satu-satunya sarana interaksi antarpenulis puisi, Pada saat itu, yang dirasakan oleh Ahda, agak sulit untuk berinteraksi dengan sesama penulis atau penyair karena masih langkanya komunitas-komunitas berkesenian dan acara-acara bedah buku. Bahkan Ahda baru mengetahui sosok Saini K.M. pada acara peluncuran buku puisi Sepuluh Orang Utusan, padahal sebelumnya pernah bertemu di toko buku. Hal ini dirasakan juga oleh Acep pada awal-awal kepenyairannya. Dia merasa seorang diri, tidak punya teman.

Penemuan dalam Pertemuan (Besar)
Lain dulu lain sekarang. Setiap generasi adalah anak zamannya. Kini mencari informasi semudah menjentikkan jemari. Dunia maya dengan segala fasilitas dan kemudahannya membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu. Naskah diketik komputer kemudian dikirim lewat email merupakan salah satu contoh kemudahan itu. Setiap orang dapat menulis puisi dan menerbitkan atau memuatnya dalam blog atau catatan di facebook merupakan salah satu contoh kemudahan lainnya. Konsekuensi dari situasi ini, menurut Ahda, lebih banyak orang yang menulis, tetapi tidak atau sedikit membaca. Oleh karena itu, Ahda sangat menekankan kepada para penyair untuk memperkaya bacaan (bacaan apapun) serta melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan berkesenian.
Adanya jejaring facebook atau twitter mendorong para penulis untuk berinteraksi lebih jauh, bahkan membentuk komunitas-komunitas tertentu. Setiap orang menemukan ruang kebebasan berekspresi. Banyaknya buku yang diterbitkan mendorong penerbit atau penulisnya untuk mengadakan acara peluncuran buku. Dalam ruang-ruang seperti itulah kemudian para penulis berinteraksi dan berdialog. Situasi seperti itu secara kuantitatif memperlihatkan semakin luasnya “apresiator” dan “penulis”, tetapi dari segi kualitas masih menjadi pertanyaan.

Amatir: Jalan Penyair
Memilih menjadi penyair berarti memilih jalur amatir. Menulis puisi tidak dapat dijadikan sebagai profesi yang akan menjadikannya sebagai profesional (yang secara finansial menguntungkan). Modal dalam berproses sehingga lahir puisi tidak sebanding dengan imbalan yang didapat dari honor atau hasil menjual buku puisi. Para penyair yang telah mumpuni sekalipun tak ada yang mengandalkan profesinya pada kepenyairan. Goenawan Mohammad adalah seorang yang berprofesi sebagai wartawan atau Sapardi Djoko Damono berprofesi sebagai dosen. Oleh karena itu, penyair tidak akan pernah pensiun karena dia seorang amatir, sedangkan seorang professional akan mengalami pensiun. Begitulah Acep Zamzam Noor (AZN) menjelaskan tentang proses kreatif dan keyakinannya terhadap kepenyairan.
Istilah amatir, menurut AZN bukanlah sesuatu yang jelek atau rendah serta tidak ada hubungannya dengan pencapaian kualitas karya seseorang. Amatir dalam penafsiran AZN berasal dari kata amore yang berarti cinta dan ini sangat erat hubungannya dengan kesukaan, kesenangan, kecintaan serta pengorbanan pada pekerjaan yang ditekuni. Karena amatir, penyair tidak mengenal pensiun.
Masalah profesi ini ditanggapi oleh M. Syafari Firdaus. Dia mengatakan bahwa dirinya memilih jalan untuk menulis puisi saja, tidak memilih jalan untuk menjadi penyair. “Seorang penyair harus menulis puisi, tetapi menulis puisi tidak selalu harus penyair”, kata Daus (Daus adalah panggilan Firdaus oleh Matdon sebagai moderator, alih-alih memanggilnya Firda). Menjadi penyair harus memiliki mentalitas sebagai penulis (puisi), intensionalitas, dan loyalitas. Firdaus menegaskan bahwa puisi “Menjadi Penyair Lagi” menunjukkan bahwa AZN sebagai penulisnya sempat berada pada situasi tidak sedang menjadi penyair. Acep sendiri mengakui bahwa ada kalanya dalam setahun puisi yang dihasilkannya hanya beberapa.

Menulis Puisi: melalui Tabarruk
Menjadi penyair, bagi AZN merupakan proses yang panjang dan melalui jalan yang berliku. Salah satu jalan yang dilaluinya melalui tabarruk (mengambil berkah). Hal tersebut dilakukan dengan melihat tradisi di pesantren yang begitu menghormati dan mengagungkan kitab kuning. Kitab kuning oleh orang-orang pesantren diciumi dan diletakkan di atas kepala. Menurut pengakuannya, AZN pun waktu di Itali, sampai-sampai menciumi buku-buku puisi para penyair Itali dan Spanyol. Hal itu dilakukannya sebagai salah satu cara menghayati. AZN mungkin tidak sedang menyarankan agar kita juga melakukan hal yang sama, tetapi kedekatan kita, penghayatan kita terhadap sesuatu akan menjadikan diri kita lebih memahami dan dapat menyatu dengan apa yang kita hayati tersebut.

Menulis Puisi: Mencari Suasana
Setiap orang memiliki tempat-tempat dan waktu-waktu favorit untuk menulis. Ilham dan gagasan dapat dipungut kapan saja dan di mana saja, tetapi untuk menuliskannya perlu suasana khusus yang membawanya pada situasi in the mood. Intinya tempat, cuaca, benda-benda, alam memberikan intensitas rangsangan yang berbeda-beda, bahkan creambath pun menjadi penting bagi penyair, begitu menurut Acep Zamzam Noor.

Menulis Puisi: Menggosok Batu Akik
AZN pernah memberikan batu akik kepada seseorang yang ingin menjadi penyair. Namun, orang tersebut memberikannya lagi kepada orang lain sehingga tidak berhasil menjadi penyair. Bisa jadi sebenarnya bukan semata-mata batu akik, melainkan bagaimana kita harus membentuk mentalitas seorang penyair, melatih kekhusyukan, kesabaran, tidak mudah putus asa, ketulusan serta kecintaan terhadap sesuatu. Menggosok batu akik melalui proses panjang yang hasilnya baru akan diketahui pada tahap akhir. ”Batu itu seperti kata, semakin digosok semakin bercahaya,” begitulah fatwa AZN kepada siapa saja yang berniat serius menggeluti puisi.

Menulis Puisi: Mengolah Realitas (Tahu manjadi Tahi)
Dalam proses kreatifnya, penyair melakukan pergulatan yang intens dalam menjalani kehidupan. Realitas yang dilihat, dirasakan, dan dijalaninya harus diolah, penyair dituntut untuk menyatakan realitas tersebut dengan wujud lain. Realitas yang dialami sang penyair, baik rohani maupun jasmani, tidak lagi dinyatakan secara verbal, tetapi harus mampu dilukiskan secara visual lewat kata-kata.

Puisi: Meremangkan Bulu Kuduk
Bagaimana menjelaskan puisi yang bagus merupakan suatu persoalan karena setiap orang tidak harus sepakat mengenai kriteria yang dipegangnya. Akan tetapi, kriteria AZN terhadap sebuah puisi berhasil adalah kemampuannya meremangkan bulu kuduk (mungkin juga bulu yang lain). Bahkan menurut pengakuan AZN nama penyairnya yang puitis atau aneh pun dapat menggetarkan. Jadi langkah awal AZN dalam menikmati puisi adalah memeriksa nama penyairnya dulu apakah sudah beres atau belum sebagai nama penyair. Setelah itu baru memasuki puisinya.

Catatan Terakhir: Apakah menjadi ilalang ada gunanya?
”Tak boleh seorang mukmin merendahkan diri. Apa maksud merendahkan diri ya Rasul? Memaksakan diri untuk melakukan apa yang tidak mampu ia lakukan” (Mizan, 3:441). Perkataan Rasulullah ini menjadi kalimat pengingat bagi kita (saya), apakah kita (saya) memaksakan diri sebagai penyair sehingga menjadi orang yang akan merendahkan diri sendiri. Apakah kata-kata Saini K.M. yang juga dikutip oleh AZN bahwa memaksakan diri menjadi penyair hanya akan mengganggu dunia puisi bagai ilalang mengganggu tanaman padi. Dalam konteks ini Saini mengingatkan kepada para penulis yang menulis puisinya didasari oleh motif-motif lain, bukan panggilan jiwa. Atau biarkan saja ilalang tumbuh karena ilalang juga memberikan manfaat.
(Mohon maaf jika terdapat kesalahan interpretasi mohon maklum. Salam takzim:
Agus Nasihin – apresiator amor)

Selasa, 02 Februari 2010

CD Gratis untuk Pengunjung Pesta Buku Bandung 2010

Pada PESTA BUKU BANDUNG 2010 yang diselenggarakan IKAPI JABAR bekerjasama dengan PEMKOT BANDUNG pada tanggal 17 Februari 2010 Aktor Orchestra tampil pada acara Musikalisasi Puisi dan Diskusi Buku "Sadur" (Host: UNPAD & IKAPI). Pada kesempatan itu Akor Orchestra berkesempatan memberi kenang-kenangan berupa CD Musikalisasi Puisi "Depan Cermin" kepada nara sumber. Di antaranya adalah Henri Chambert Loir, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA., Ibu Kalsum, dan moderator.


Dalam rangka memperkenalkan Musikalisasi Puisi TERBARU karya A. Bima Sutisna, Aktor Orchestra memberikan CD Gratis kepada para pengunjung yang apresiatif dan antusias berinteraksi.

Acara Diskusi Buku & Musikalisasi Puisi dibuka dengan Penampilan AKTOR Band yang membawakan 2 buah lagu Karya Bayu Aktor. Sedangkan A. Bima Sutisna, Yanti Sribudiarti & Aktor Orchestra membawakan Musikalisasi Puisi Terbaru.

Terima kasih kami ucapkan kepada Dhipa Galuh Purba, Erwan Juhara dan seluruh Panitia PESTA BUKU BANDUNG - IKAPI JABAR, kepada para pengunjung yang apresiatif, kepada para Fans dan seluruh pendukung yang selalu setia

Jumat, 08 Januari 2010

Apa Kata Puisi Tentang Dirinya

Penyusun: Agus Nasihin - Yanti Sri Budiarti

Berbagai cara dilakukan untuk mendefinisikan apa itu puisi. Sampai saat ini tidak ada satu definisi puisi pun yang memusakan karena puisi terus berubah seiring dengan perubahan zaman. Salah satu cara yang menarik dilakukan oleh para penyair atau penyajak dengan menjelaskan hakikat puisi melalui ekspresi puisi. Puisi yang paling dikenal dalam mendefinisikan puisi ialah puisi yang ditulis oleh Sanusi Pane.

SAJAK

Di mana harga karangan sajak,
Bukan dalam maksud isinya;
Dalam bentuk, kata nan rancak,
Dicari timbang dengan pilihnya

Tanya pertama keluar di hati,
Setelah sajak dibaca tamat,
Sehingga mana tersebut sakti,
Mengikat diri di dalam hikmat.

Rasa bujangga waktu menyusun,
Kata yang datang berduyunduyun
Dari dalam, bukan nan dicari.

Harus kembali dalam pembaca,
Sebagai bayang di muka kaca,
Harus bergoncang di hati nurani.

(Sanusi Pane dari Puspa Mega)

Dalam puisinya Sanusi Pane ingin menjelaskan bahwa puisi merupakan proses kreatif dalam memilih kata-kata secara cermat; puisi merupakan cetusan perasaan yang muncul secara spontan. Dalam buku puisinya yang berjudul Madah Kelana Sanusi Pane meralat apa yang telah ditulisnya. Ia meralatnya dengan puisi juga.

SAJAK
O, bukannya dalam kata yang rancak
Kata yang pelik kebagusan sajak.
O, pujangga, buang segala kata,
Yang ‘kan cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca sepintas lalu.
Karena tak keluar dari sukmamu.

Seperti matahari mencintai bumi,
Memberi sinar selama-lamanya,
Tidak meminta sesuatu kembali,
Harus cintamu senantiasa.

(Sanusi Pane dari Madah Kelana)

Sanusi Pane meralat bahwa sajak bukan dalam kata yang rancak. Menurutnya hakikat sajak adalah ekspresi yang keluar dari sukma, tidak berpretensi apa-apa, harus tulus. Buang segala kata yang tidak keluar dari dasar hati yang paling dalam.
Subagio Sastrowardojo kemudian meneruskan tradisi Sanusi Pane. Ia menyusun puisi dengan judul “Sajak” sebagai berikut.

SAJAK
Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu.
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari.
Kalau terbayang pantalon
Sudah sebulan sobek tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir?

Ah, sajak ini,
mengingatkan kepada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

(Subagio Sastrowardojo, 1957)


Puisi dirasakan oleh Subagio seakan-akan tidak berarti apa-apa jika hidup ini dihadapkan dengan berbagai macam persoalan kehidupan. Tetapi, sejak tersebut sesungguhnya menegaskan bahwa betapa berartinya sajak. Karena hidup semakin sulit, Subagio bisa menulis sajak dan akhirnya dapat duit. Sajak bagi Subagio adalah senjata yang ampuh untuk mengalahkan rasa frustasi, keinginan untuk bunuh diri.
Berbeda dengan Subagio, Hartojo Andangdjaja seolah-olah mendefinisikan langsung apa itu puisi dalam puisi yang berjudul sajak di bawah ini.

SAJAK

Sajak ialah kenangan yang bercinta
mencari jejekmu, di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
lewat bukit dan lembah
dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca
jejak kakimu di dana

Sementara di mukanya masih menunggu
yojana biru
kaki langit yang jauh
jarak-jarak yang harus ditempuh

Ia makin merindu
dalam doa, dan bersimpuh
Tuhanku…..
Sajak ialah kenangan yang bercinta
mencari jejakmu, di dunia

(Hartojo Andangdjaja, 1966)

Dalam sajaknya Hartojo ingin menjelaskan bahwa puisi adalah luapan ekspresi dari pengalaman hidup berupa kenangan, petualangan, percintaan, dan kerohanian.
Berbeda dengan yang lain yang menulis puisi dengan judul sajak, Dodong Djiwapradja membuat puisi dengan judul puisi.

PUISI
Kun fayakun
Saat penciptaan kedua adalah puisi
Tertimba dari kehidupan yang kautangisi

Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari
adalah puisi
Udara yag kauhirupi, air yang kauteguki
adalah puisi
Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli
adalah puisi
Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali
adalah puisi

Dan dari setiap tanah yang kaupijak
Sawah-sawah yang kaubajak
Katakanlah: sajak

Puisi adalah manisan
yang terbuat dari butir-butir kepahitan

Puisi adalah gedung yang megah
yang terbuat dari butir hati yang gelisah

(Dodong Djiwapradja, 1968)


Dodong Djiwapradja memberi makna terhadap puisi sebagai suatu proses penciptaan yang dahsyat. “Kun fayakun”, jadi, maka jadilah! Seperti ketika Tuhan berkehendak dengan mengatakan “jadi!”, maka segala sesuatunya tidak ada yang mustahil. Melalui ciptaan-ciptaan Tuhanlah, puisi mendapatkan inspirasinya. Bumi, laut, udara, air, kebun, bukit adalah puisi. Tetapi, semua itu kembali lagi kepada manusia yang memiliki hati dan pikiran, manusia yang menajalani kehidupan. Lewat pengalaman yang manis, lewat pengalaman yang pahit, lewat hati yang gundah, jadilah puisi; puisi menjelma bagai “gedung megah” yang di bangun dalam sanubari.
Berbeda dengan puisi-puisi di atas, beberapa penyair menulis puisi dengan judul “Sajak” maknanya tidak lagi mudah diraba, seperti pada sajak Sapardi berikut.

SAJAK, 1
Begitulah, kami bercakap sepanjang malam: berdiang pada
suku kata yang gosok-menggosok dan membara.
“Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan
menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain
putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!”
Baiklah, kami pun bercakap sepanjang malam: “Tetapi begitu
cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai
beterbangan dan menyesakkan udara dan…”

(Sapardi Djoko Damono, 1973)

Kita mungkin akan mengalami kesulitan untuk memahami maksud penyair dengan memberikan judul “Sajak” pada sajaknya. Tetapi, kita masih bisa mengenali hubungan antara judul dengan isinya karena masih kita dapati kata-kata seperti “berdiang pada suku kata…”, “… kata demi kata menjadi abu….” Bagi Sapardi kata-kata harus terus menerus kita gosok agar tidak menidurkan kita. Kita harus terus menerus berlatih menyusun kata sehingga menjelma puisi. Kita harus sigap menangkap kata demi kata agar tidak beterbangan dan tidak menjadi apa-apa. Kita harus dengan cepat menuliskan segala pikiran dan perasaan dalam bentuk kata-kata (puisi).
Di antara sekian banyak penyair yang menulis puisi dengan judul “Sajak” ialah Acep Zamzam Noor, yang lebih sulit lagi bagi kita untuk menemukan maksudnya.

SAJAK

Perempuan itu tanpa nama
Bangkit dari kesederhanaanmu

Ketika langit bersih
Mengalirkan sungai kasih

“Tapi aku bukan penzinah
Aku penziarah!”

Lantas siapa yang menyimpan tangisnya?
Lantas siapa yang menyusui bayinya?

Perempuan itu tanpa nama
Maria

Bangkit dari kesederhanaanmu
Menangis dalam dingin batu

Barangkali geli
Dihamili sejarah Masehi

“Tapi aku bukan anak jadah, ia!”
Kereta waktu terus melaju

(Acep Zamzam Noor, 1982)

Tidak mudah untuk memahami maksud dari puisi Acep Zamzam Noor ini (kalau mudah nanti tidak dianggap sebagai puisi). Setidak-tidaknya kita dapat menangkap kemisterian dan kerahasiaan lahirnya seorang anak dari rahim seorang ibu tanpa ayah. Kemisterian juga terjadi pada kelahiran puisi dari rahim penyairnya.
Demikianlah, beberapa cara untuk memahami arti puisi. Alih-alih memperjelas, para penyair yang mencoba menulis puisi tentang puisi malah memperkabur. Tapi, itulah puisi. Kalau tidak kabur, bukan puisi namanya.

* * *

Jumat, 25 September 2009

PUISI MENDEFINISIKAN DIRINYA SENDIRI

Penyusun: Agus Nasihin


Dahulu adalah seorang yang hanya sedikit sahaja memperoleh pelajaran sekolah. Ia amat rajin bekerja, ia hidup dengan hemat dan cermatnya, istrinya ialah seorang perempuan yang arif budiman, dan lama-kelamaan jadilah ia seorang yang berada. Maka inginlah ia menambah pelajarannya dan dicarinyalah seorang guru. Guru itu menceritakan kepadanya tentang adanya sajak. Sajak itu mempunyai jumlah suku kata yang tertentu pada tiap-tiap baris dan baris-baris itu bersajak satu dengan yang lain. “Itulah puisi”, kata guru itu kepadanya, dan diberinya sebuah contoh:


Jikalau tuan menjadi sungai,
Kakang menjadi ikan yang permai

(Dikutip dari Penjedar Sastera)


Apakah puisi? Dalam bahasa Indonesia selain dikenal istilah puisi ada juga yang menyebutnya sajak. Pada awalnya, sajak memiliki arti persamaan bunyi, seperti pada pantun kita kenal memiliki persamaan bunyi dengan rumus abab atau dapat kita sebut bersajak abab. Menurut J.S. Badudu istilah puisi (poet) sebenarnya berpadanan dengan istilah sanjak. Akan tetapi, seiring dengan perubahan waktu istilah puisi berpadanan dengan istilah sajak dan kedua istilah itu dalam penggunaannya sama-sama bersaing, sama-sama produktif.

Selain istilah-istilah yang telah disebutkan di atas adakalanya orang juga menyebut istilah syair. Istilah syair sebenarnya adalah salah satu jenis puisi lama yang mirip dengan pantun tetapi berisi cerita. Di masyarakat luas istilah syair lebih banyak digunakan untuk menyebut kata-kata yang digunakan dalam lagu. Orang sering menyebutnya syair lagu atau lirik lagu.

Untuk memahami puisi, Shanon Ahmad, seperti yang dikutip oleh Pradopo, membuat definisi puisi dengan memadukan unsur-unsur yang terdapat pada berbagai macam definisi. Puisi adalah ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca idera dalam susunan yang berirama.

Inilah satu lagi definisi puisi yang menurut penyusunnya (Herman J. Waluyo) merupakan definisi yang terpaksa, “Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya”.

Ada baiknya pula merenungkan sebuah dialog antara seorang anak dan ayahnya tentang apa itu puisi.


Anak : Ayah, apakah sebenarnya yang disebut puisi itu?

Ayah : Apabila engkau ingin mengerti puisi, anakku

Pandanglah tenang-tenang gelombang lautan di samudera luas tanpa tepi

Dengarlah baik-baik kicau unggas di pagi hari

Puisi adalah kehidupan, anakku

Puisi adalah sesungging senyum yang terlukis pada sudut bibir sang dara

Puisi adalah pemahaman rasa, anakku

Karena itu, bila kau ingin memahami puisi, bukalah pintu hatimu.



Rabu, 20 Mei 2009

MENGAPA AKTOR ORCHESTRA?

AKTOR adalah pemeran. Semua orang berperan dalam kapasitasnya masing-masing. Semua menjadi AKTOR utama sekaligus menjadi AKTOR pembantu. Semua orang punya hak untuk menjadi apa saja. Semua orang harus menjadi yang terbaik.

ORCHESTRA diartikan sebagai bermain musik bersama. Jika kehidupan ini adalah musik, setiap orang harus menjalani (kan) kehidupannya dalam kebersamaan; menggali gagasan bersama; berbagi kesulitan dan kebahagiaan bersama (ujung-ujungnya...makan bersama).
  • AKTOR ORCHESTRA adalah sebuah wadah (manajemen) bagi siapa saja yang ingin "bermain" musik (plus seni lain) yang didirikan oleh A. Bima "Sakti" Sutisna dan Agus Nasihin.
  • AKTOR ORCHESTRA telah menghasilkan sebuah album VCD musikalisasi puisi; sekarang sedang membina AKTOR BAND dan memberikan konsultasi dalam bidang desain grafis.
  • AKTOR ORCHESTRA telah membuat sebuah komunitas yang diberi nama FAKTOR PLUS. (Fans Aktor). Siapa saja yang berminat dalam bidang seni dapat bergabung dengan kami.
Selamat bergabung dalam kafilah ruhani....

Minggu, 17 Mei 2009

UNTUK KARYA YANG PENUH MAKNA (Album Depan Cermin)

Ketika seseorang yang hidup dan menjalaninya dengan cara menghargai kehidupan, lalu berada pada posisi diterpa kerinduan kepada Sang Pencipta, maka puisi adalah taman yang indah dan sejuk untuk merebahkan hati dan merenungi diri.

Ketika seseorang memiliki hasrat untuk mencari kebermaknaan geme­riciknya air mengelus batu dan merindukan arti media dalam pembelajaran puisi, maka karya musikalisasi puisi audio-visual ini menjadi anugerah yang patut disyukuri.

Alhamdulillah hanya orang yang berkualitas unggul dan kreatif saja yang mampu berprestasi.
~ Prof. Dr. Yoyo Mulyana - Guru Besar UPI Bandung ~

Musikalisasi Puisi Agus Nasihin & Yanti Sri Budiarti

Album VCD: DEPAN CERMIN
Pencipta Lagu & Penata Musik:

A. Bima Sutisna
Aktor Orchestra - Bandung, 2009


"Puisi adalah pikiran yang musikal", kata Thomas Carlye Jika puisi adalah musik, mengapa harus dibuat musikalisasi puisi? Justru karena puisi itu musik, lebih "enak" jika diiringi instrumen musik. Musik adalah bahasa yang universal. Kita dapa tmenikmati musik instrumen atau lagu-lagu berbahasa asing walaupun tidak memahami makna lirik lagunya. Begitupun puisi, kata-kata dalam puisi penuh dengan konotasi, simbol, metafora. Puisi sering dihindari karena menuntut kita untuk mengaktifkan imajinasi dan pikiran (sebagian besar tidak suka berpikir).

Puisi yang diolah menjadi musikalisasi puisi setidak-tidaknya diharapkan akan lebih mudah mendekatkan puisi kepada khalayak yang lebih luas. Dengan demikian, puisi dapat lebih diapresiasi oleh masyarakat yang lebih luas.

Selamat menikmati musikalisasi puisi yang diambil dari kumpulan puisi "Ketika Engkau Menagih Puisi" (Agus Nasihin) dan "Bolehkah Merindu" (Yanti Sri Budiarti). Terima kasih.